
Berikut wawancara eksklusif dengan Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto saat ditemui di kantornya, Gedung Juang 45, Cikini, Jakarta, antara lain:
Bagaimana pendapat bapak menyimak carut marutnya persoalan bangsa saat ini?
Bangsa kita belum selesai
memerdekakan jiwanya, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 hanya sebuah
seremonial. Kita sebagai sebuah bangsa yang berdaulat harus bisa mandiri dan
percaya akan kekuatan sendiri. Perjuangan untuk memerdekakan jiwa kita masih
panjang, kita jangan terus terpenjara dalam sebuah labirin negatif, seperti minder,
tidak percaya diri dan berjiwa jongos. Pendiri sekolah Taman Siswa yang juga
salah satu guru bangsa Indonesia, Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan,
apabila jiwa merdeka, maka negara merdeka. Carut marutnya kondisi bangsa saat
ini dikarenakan proses kemerdekaan belum selesai dan kekuatan asing tetap ingin
menguasai Indonesia, diantaranya melalui ekspansi non-fisik. Jika kita lihat di
zaman Orde Baru, saat itu Indonesia jelas memiliki arah dan tujuan karena
adanya Garis Besar Haluan Negara (GBHN), namun harus diakui pula bahwa
kepemimpinan Presiden Soeharto dalam bidang ekonomi masih belum optimal, dan
beliau akhirnya menyadari hal ini dan disusunlah Trilogi Pembangunan
Apa yang
diperlukan bangsa ini ke depan?
Kita sudah memiliki konstitusi
yang kuat, yaitu Pancasila dan UUD 1945, namun itu semua belum memiliki
penjabaran yang lengkap karena masih menggunakan peraturan kolonial. Kondisi
ini semakin kompleks di saat semakin intensnya ekspansi non fisik yang
dilandasi kepentingan asing. Upaya untuk memperkaya khasanah dan penjabaran
Pancasila dan UUD 1945 sepanjang sejarah selalu diwarnai oleh hambatan-hambatan
politis, sebut saja peristiwa G 30 S PKI, dan bahkan momentum reformasi 1998
yang awalnya murni untuk memerangi Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) akhirnya
hanya mampu merubah tataran kekuasaan saja, dan ironisnya akhirnya UUD 1945 di
amandemen dengan memanfaatkan operator kekuatan asing yang ada di legislatif
dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Akhir-akhir ini publik semakin disuguhi berita mengejutkan seputar pemimpin, politisi dan pengusaha nasional, apa tanggapan bapak?
Akhir-akhir ini publik semakin disuguhi berita mengejutkan seputar pemimpin, politisi dan pengusaha nasional, apa tanggapan bapak?
Sebenarnya dalam masalah apapun,
berlaku idiom ”Tak akan ada asap kalau tak ada api”, namun bagaimanapun masalah
ini harus dilihat secara jernih, dan kuncinya ada di good governance.
Sejatinya, perkataan good governance sering diutarakan Presiden SBY dalam
berbagai kesempatan, dan seharusnya dilaksanakan dengan serius. Selain itu,
pemerintah harus mengklarifikasi pemberitaan di surat kabar The Age dan Sydney
Herald Tribune yang didapat dari bocoran kabel diplomatik AS yang diperoleh
WikiLeaks. Pemerintah harus meneliti motif dari pemberitaan tersebut yang
akhirnya dapat bermanfaat bagi informasi intelijen.
Maraknya
paket kiriman bom beberapa waktu semakin menguatkan pendapat bahwa rasa aman
masyarakat mulai terancam, bagaimana bapak menanggapinya?
Aparat keamanan, khususnya
intelijen harus menyelidiki latar belakang motif yang sesungguhnya, apakah
motif ekonomi, agama, politik, perdagangan narkotika, dll. Namun di balik itu,
kita harus menyadari bahwa ketidaktegasan pemerintah juga berkontribusi sebagai
penyebab maraknya teror di masyarakat. Kita bisa lihat, misalnya soal masalah
Ahmadiyah, sejumlah daerah telah membuat peraturan sendiri, hal ini tidak
mungkin terjadi jika pemerintah memiliki ketegasan. Seharusnya persoalan agama
menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Oleh karena itu, pemerintah kembali harus
didorong untuk bertindak tegas sehingga mencerminkan sebuah pemerintahan yang
kuat. Bangsa Indonesia harus berani kembali ke jalan yang benar, kita harus
sadar bahwa jati diri bangsa kita saat ini diobrak-abrik. Manusia melakukan
kesalahan adalah sebuah hal yang wajar, namun jangan sampai terulang kembali.
Bangsa Indonesia harus membuka mata selebar mungkin, kita saat ini sedang
menghadapi perang modern (non-militer), dan kita harus mampu menghadapinya.
Harapan
bapak bagi kemajuan bangsa ini ataupun pencapaian pribadi?
Saya ingin melihat dimana
Indonesia semakin merdeka, mandiri dan membangun, dan bangsa kita kembali
kepada Pancasila dan UUD 1945 yang asli. Sebagai seorang prajurit, sudah
menjadi kewajiban untuk mengawal bangsa ini sampai akhir hayat dengan
mengerahkan segala kemampuan yang ada menuju masyarakat yang adil dan makmur
serta terealisasinya ekonomi kerakyatan.
No comments:
Post a Comment